Pak Pandir Ke Kebun
Seperti biasa Pak Pandir hendak pergi memotong getah. Mak Andeh akan menyediakan peralatan Pak Pandir. Pak Pandir pun pergilah nak memotong getah.
"Hati-hati ya bang semasa tepi jalan besar tu nanti!" pesan Mak Andeh.
Pak Pandir akan berjalan kaki melalui sebuah jalanraya untuk sampai di kebun getahnya. Semasa Pak Pandir berjalan di tepi jalanraya besar tersebut, ada sebuah papan tanda yang baru dipasang betul-betul di depan kebunnya. Selepas dia membaca papan tanda tersebut, dia pun pulang hampa.
Mak Andeh heran Pak Pandir pulang semula ke rumah lalu bertanya, "Kenapa Bang?"
Pak Pandir pun menjawab, "Sejak bila la kerajaan tak bagi kita memotong getah. Diletaknya papan tanda besar di tepi jalan depan kebun kita tu papan tanda ' DILARANG MEMOTONG ' ."
Daging Yang Boleh Terbang Dan Berenang Sahaja
Salleh sering mengeluh sakit kepala dan dada. Doktor menganjurkan agar dia berhenti merokok dan minum minuman keras. Selain itu harus berhenti makan daging kambing, daging kesukaan Salleh.
Doktor: "Jangan lupa daging kambing. Anda hanya boleh makan sayur-sayuran dan daging haiwan yang boleh berenang dan terbang"
Setelah tiga hari berlalu sang Doktor menalifon Salleh mengingatkan Salleh agar makan hanya daging yang boleh berenang dan terbang sahaja. Tiga bulan kemudian Doktor mengunjungi ke rumah Salleh untuk melihat perkembangannya. Dia diberitahu oleh orang gajinya Salleh ada di kolam renang.
Mendengar itu, Doktor merasa tenang kerana menyangka Salleh bukan hanya mengikuti arahannya, tetapi juga mahu berolahraga untuk meningkatkan kesihatan tubuhnya. Doktor langsung bergegas menuju ke kolam renang di mana Salleh berada. Namun apa yang dilihatnya di kolam renang? Salleh berada di dalam air melatih kambing berenang!!!
Lord, We thank you 4 everything You've Done, everything You're Doing and everything You're going to do.. Amen.
Wednesday, January 16, 2008
PUASA dari MENGRIKITIK
Sifat mengkritik atau menghakimi merupakan kelemahan banyak orang. Walaupun Tuhan dengan jelas meminta kita untuk tidak menghakimi tetapi kelihatannya sifat mengkritik merupakan suatu kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Jika saja kita dapat puasa dari mengkritik, maka mungkin dunia kita akan menjadi lebih indah.
Puasa dari Mengkritik
Oleh Catherine Marshall
Tuhan terus menangani saya tentang kebiasaan saya yang suka mengkritik. Ia menginsafkan saya bahwa adalah salah untuk saya menghakimi orang atau situasi.
Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
Matius 7.1-2
Suatu pagi, Ia memberi saya satu tugas: untuk satu hari ini saya harus puasa dari kritikan. Saya tidak boleh mengkritik sesiapapun atau hal apa pun.
Pikiran saya mulai menimbulkan berbagai macam bantahan. ‘Tetapi bagaimana dengan penilaian. Engkau sendiri berbicara tentang “penilaian yang benar” (righteous judgment). Bagaimana suatu masyarakat dapat beroperasi tanpa standar dan batasan?’
Semua bantahan saya tidak ditanggapi. ‘Taatilah Aku tanpa banyak bertanya: suatu puasa yang mutlak dari semua pernyataan kritis untuk satu hari ini.’
Di saat saya merenungkan tugas ini saya melihat suatu sisi yang lucu. Apa yang ingin Tuhan tunjukkan kepada saya?
Buat beberapa jam yang pertama hari itu, saya merasa kosong, seolah-olah kepribadian saya terhapus. Hal ini benar-benar terasa waktu saya makan siang bersama keluarga dan sekretaris saya. Beberapa topik pembicaraan muncul, tentang praktek doa di sekolah, aborsi dan beberapa hal lain tentang amendmen undang-undang negara. Saya mempunyai opini yang sangat pasti tentang hal-hal tersebut. Saya mendengarkan diskusi di sekitar meja makan dan tidak memberikan komentar apa-apa. Beberapa komentar tajam tentang beberapa pemimpin dunia sudah ada di hujung lidah saya, tetapi saya mengurung niat saya untuk mengungkapkannya. Karena keluarga saya semuanya senang berbicara, tidak ada yang menyadari bahwa saya tidak seperti selalunya.
Saya melihat bahwa tidak ada yang merasa kehilangan karena saya tidak berkomentar. Pemerintahan, sistem perundangan dan institusi gereja kelihatannya baik-baik saja tanpa observasi saya yang tajam. Tetapi saya masih tidak melihat apa yang dapat dicapai dengan puasa dari mengkritik ini.
Tetapi di siang hari sesuatu mulai terjadi.
Untuk beberapa tahun saya telah berdoa untuk seorang anak muda yang sangat berbakat tetapi kehidupannya menjadi agak kacau belakangan. Mungkin doa saya baginya terlalu negatif. Di siang hari itu, satu visi yang khusus dan positif tentang hidupnya tiba-tiba diberikan kepada saya dari Tuhan. Saya tahu visi itu dari Tuhan karena ia datang bersamaan suatu tanda pasti yaitu sukacita.
Ide-ide mulai berdatangan, suatu hal yang belum pernah saya alami selama bertahun-tahun. Sangatlah jelas sekarang apa yang Tuhan ingin saya lihat. Sifat kritis saya tidak pernah dapat mengoreksi pelbagai hal yang saya lihat sebagai kurang beres. Tetapi hal yang telah terjadi adalah, sifat kritis saya telah menghambat kreativitas saya, apakah dalam hal berdoa, dalam relasi saya dan bahkan dalam tulisan saya. Sifat kritis saya telah membuat Tuhan tidak dapat menyampaikan kepada saya ide-ide dari-Nya.
Kelemahan karakter saya yang suka mengkritik ini tentu saja tidak dapat dikoreksi dengan begitu saja. Tetapi setelah merenungkan hal ini, utamanya membaca apa yang diajarkan oleh Yesus dari Khotbah di Bukit, saya melihat bahwa Yesus begitu jelas meminta kita jangan memandang orang atau situasi dengan lensa yang negatif.
Apa yang Ia tunjukkan kepada saya dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Semangat yang kritis membuat kita fokus pada diri kita sendiri dan membuat kita tidak gembira. Kita kehilangan perspektif dan humor.
2. Semangat yang kritis memblokir pikiran kreatif yang positif yang mau diberikan oleh Tuhan kepada kita.
3. Semangat yang kritis bisa menghambat hubungan antar-pribadi dan seringkali membuat orang kritis terhadap kita juga.
4. Sifat kritis menghambat pekerjaan Roh Kudus utamanya kasih, kebaikan dan kemurahan.
5. Di saat kita melihat sesuatu yang benar-benar salah di dalam pribadi orang lain, jangan mengkritik secara langsung atau yang lebih parah, mengeluh tentang orang itu kepada orang lain. Yang perlu kita lakukan adalah meminta Roh Kudus untuk berkarya.
Setelah diinsafkan oleh efek kebinasaan dari pemikiran yang kritis, saya berlutut dan mendoakan doa ini: ‘Tuhan, saya bertobat dari dosa menghakimi ini. Saya minta maaf karena selama ini secara terus menerus saya telah melakukan suatu perlanggaran yang begitu besar terhadap Engkau dan diri saya sendiri. Saya mengklaim pengampunan dari Engkau dan meminta untuk diberikan suatu kesempatan yang baru.’
(Catherine Marshall adalah penulis Kristen yang terkenal di Amerika. Artikel di atas dikutip dari catatan hariannya.)
Puasa dari Mengkritik
Oleh Catherine Marshall
Tuhan terus menangani saya tentang kebiasaan saya yang suka mengkritik. Ia menginsafkan saya bahwa adalah salah untuk saya menghakimi orang atau situasi.
Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
Matius 7.1-2
Suatu pagi, Ia memberi saya satu tugas: untuk satu hari ini saya harus puasa dari kritikan. Saya tidak boleh mengkritik sesiapapun atau hal apa pun.
Pikiran saya mulai menimbulkan berbagai macam bantahan. ‘Tetapi bagaimana dengan penilaian. Engkau sendiri berbicara tentang “penilaian yang benar” (righteous judgment). Bagaimana suatu masyarakat dapat beroperasi tanpa standar dan batasan?’
Semua bantahan saya tidak ditanggapi. ‘Taatilah Aku tanpa banyak bertanya: suatu puasa yang mutlak dari semua pernyataan kritis untuk satu hari ini.’
Di saat saya merenungkan tugas ini saya melihat suatu sisi yang lucu. Apa yang ingin Tuhan tunjukkan kepada saya?
Buat beberapa jam yang pertama hari itu, saya merasa kosong, seolah-olah kepribadian saya terhapus. Hal ini benar-benar terasa waktu saya makan siang bersama keluarga dan sekretaris saya. Beberapa topik pembicaraan muncul, tentang praktek doa di sekolah, aborsi dan beberapa hal lain tentang amendmen undang-undang negara. Saya mempunyai opini yang sangat pasti tentang hal-hal tersebut. Saya mendengarkan diskusi di sekitar meja makan dan tidak memberikan komentar apa-apa. Beberapa komentar tajam tentang beberapa pemimpin dunia sudah ada di hujung lidah saya, tetapi saya mengurung niat saya untuk mengungkapkannya. Karena keluarga saya semuanya senang berbicara, tidak ada yang menyadari bahwa saya tidak seperti selalunya.
Saya melihat bahwa tidak ada yang merasa kehilangan karena saya tidak berkomentar. Pemerintahan, sistem perundangan dan institusi gereja kelihatannya baik-baik saja tanpa observasi saya yang tajam. Tetapi saya masih tidak melihat apa yang dapat dicapai dengan puasa dari mengkritik ini.
Tetapi di siang hari sesuatu mulai terjadi.
Untuk beberapa tahun saya telah berdoa untuk seorang anak muda yang sangat berbakat tetapi kehidupannya menjadi agak kacau belakangan. Mungkin doa saya baginya terlalu negatif. Di siang hari itu, satu visi yang khusus dan positif tentang hidupnya tiba-tiba diberikan kepada saya dari Tuhan. Saya tahu visi itu dari Tuhan karena ia datang bersamaan suatu tanda pasti yaitu sukacita.
Ide-ide mulai berdatangan, suatu hal yang belum pernah saya alami selama bertahun-tahun. Sangatlah jelas sekarang apa yang Tuhan ingin saya lihat. Sifat kritis saya tidak pernah dapat mengoreksi pelbagai hal yang saya lihat sebagai kurang beres. Tetapi hal yang telah terjadi adalah, sifat kritis saya telah menghambat kreativitas saya, apakah dalam hal berdoa, dalam relasi saya dan bahkan dalam tulisan saya. Sifat kritis saya telah membuat Tuhan tidak dapat menyampaikan kepada saya ide-ide dari-Nya.
Kelemahan karakter saya yang suka mengkritik ini tentu saja tidak dapat dikoreksi dengan begitu saja. Tetapi setelah merenungkan hal ini, utamanya membaca apa yang diajarkan oleh Yesus dari Khotbah di Bukit, saya melihat bahwa Yesus begitu jelas meminta kita jangan memandang orang atau situasi dengan lensa yang negatif.
Apa yang Ia tunjukkan kepada saya dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Semangat yang kritis membuat kita fokus pada diri kita sendiri dan membuat kita tidak gembira. Kita kehilangan perspektif dan humor.
2. Semangat yang kritis memblokir pikiran kreatif yang positif yang mau diberikan oleh Tuhan kepada kita.
3. Semangat yang kritis bisa menghambat hubungan antar-pribadi dan seringkali membuat orang kritis terhadap kita juga.
4. Sifat kritis menghambat pekerjaan Roh Kudus utamanya kasih, kebaikan dan kemurahan.
5. Di saat kita melihat sesuatu yang benar-benar salah di dalam pribadi orang lain, jangan mengkritik secara langsung atau yang lebih parah, mengeluh tentang orang itu kepada orang lain. Yang perlu kita lakukan adalah meminta Roh Kudus untuk berkarya.
Setelah diinsafkan oleh efek kebinasaan dari pemikiran yang kritis, saya berlutut dan mendoakan doa ini: ‘Tuhan, saya bertobat dari dosa menghakimi ini. Saya minta maaf karena selama ini secara terus menerus saya telah melakukan suatu perlanggaran yang begitu besar terhadap Engkau dan diri saya sendiri. Saya mengklaim pengampunan dari Engkau dan meminta untuk diberikan suatu kesempatan yang baru.’
(Catherine Marshall adalah penulis Kristen yang terkenal di Amerika. Artikel di atas dikutip dari catatan hariannya.)
Friday, January 11, 2008
PERSAHABATAN KEKAL ERAT
Tahun-tahun yang sudah berlalu meninggalkan banyak perkara untuk dilupakan atau dikenang. Secara tidak lebih terasa, saya teringatkan persahabatan antara kita semua. Sebagai sahabat-sahabat yang terdekat dalam pelayanan khususnya, saya rindu untuk menjadikan kenangan itu untuk alasan kenapa perlu kita meneruskan pelayanan ini bersama dalam menggerakkan Gereja.
Memang juga tidak dapat dinafikan bahawa banyak perkara yang tidak manis berlaku yakni perkara yang melukakan hati atau perasaan. Ada juga sahabat-sahabat yang mengambil langkah bertenang dan mengasingkan diri buat seketika. Ada juga yang tersinggung dan tersadung kerana merasa perlakuan yang tidak dapat diterima antara sesama.
Saya rasa kerenggangan hubungan persahabatan ini bukanlah masalah besar, malah ia masalah yang sangat kecil, sekiranya kita mampu mengatasi halangan dalam diri kita. Kita tidak perlu melihat matlamat setinggi gunung untuk merancang aktiviti yang sangat besar untuk merapatkan hubungan persahabatan sesama kita, tetapi cukup ada kesedaran dan inisiatif untuk kembali bersemangat setia kawan.
"Lupakan yang telah lalu dan mengarah pada tujuan", kita sangat bersyukur sebab menjadi antara Gereja besar yang digerakkan oleh kebanyakanya orang-orang muda. Tetapi bukan ini yang kita ingin perlihatkan kepada orang lain, yang perlu kita perlihatkan ialah hasil daripada kerjasama pelayanan kita. Jikalau yang lalu kita mendapati yang dibuat itu gagal, kurang berjaya, kurang memuaskan. Kini kita perlu berusaha lagi untuk memperbaikinya untuk masa akan datang.
Ingatlah bahawa apapun yang telah berlaku dalam diri kita, keluarga kita, kerja kita, pelayanan kita adalah bukan atas kehendak kita semata-mata. Tetapi itu berlaku atas ketentuan Tuhan dan Tuhan sentiasa ada maksud untuk hal-hal yang telah kita lalui itu (Yeremia 29:11) ringkasnya Tuhan tahu yang terbaik untuk kita, Rancanganya untuk kita indah dan bukan kesusahan, iaitu rancangan untuk masa depan yang penuh harapan.
Tiada manusia yang sempurna dalam dunia ini, yang penting dan dihormati ialah apabila kita lemah kita berani bangun kembali (Mazmur 27: 23-24) dan Tuhan maksudkan inilah orang yang berkenan kepadaNYA. Jauhkan sikap yang tidak berkenan di Hati Tuhan dan meminta ampun dari padaNYA, nescaya kita semua akan terus menerima kunjungan Tuhan dalam kehidupan kita.
Teman-teman seperjuangan, kuatkan semangat hancurkan lemah semangat, beranikan diri hindarkan ketakutan, sujud dan menyerah pada Tuhan untuk terus dipakai Tuhan.
Tuhan Memberkati Kita Semua.....
Memang juga tidak dapat dinafikan bahawa banyak perkara yang tidak manis berlaku yakni perkara yang melukakan hati atau perasaan. Ada juga sahabat-sahabat yang mengambil langkah bertenang dan mengasingkan diri buat seketika. Ada juga yang tersinggung dan tersadung kerana merasa perlakuan yang tidak dapat diterima antara sesama.
Saya rasa kerenggangan hubungan persahabatan ini bukanlah masalah besar, malah ia masalah yang sangat kecil, sekiranya kita mampu mengatasi halangan dalam diri kita. Kita tidak perlu melihat matlamat setinggi gunung untuk merancang aktiviti yang sangat besar untuk merapatkan hubungan persahabatan sesama kita, tetapi cukup ada kesedaran dan inisiatif untuk kembali bersemangat setia kawan.
"Lupakan yang telah lalu dan mengarah pada tujuan", kita sangat bersyukur sebab menjadi antara Gereja besar yang digerakkan oleh kebanyakanya orang-orang muda. Tetapi bukan ini yang kita ingin perlihatkan kepada orang lain, yang perlu kita perlihatkan ialah hasil daripada kerjasama pelayanan kita. Jikalau yang lalu kita mendapati yang dibuat itu gagal, kurang berjaya, kurang memuaskan. Kini kita perlu berusaha lagi untuk memperbaikinya untuk masa akan datang.
Ingatlah bahawa apapun yang telah berlaku dalam diri kita, keluarga kita, kerja kita, pelayanan kita adalah bukan atas kehendak kita semata-mata. Tetapi itu berlaku atas ketentuan Tuhan dan Tuhan sentiasa ada maksud untuk hal-hal yang telah kita lalui itu (Yeremia 29:11) ringkasnya Tuhan tahu yang terbaik untuk kita, Rancanganya untuk kita indah dan bukan kesusahan, iaitu rancangan untuk masa depan yang penuh harapan.
Tiada manusia yang sempurna dalam dunia ini, yang penting dan dihormati ialah apabila kita lemah kita berani bangun kembali (Mazmur 27: 23-24) dan Tuhan maksudkan inilah orang yang berkenan kepadaNYA. Jauhkan sikap yang tidak berkenan di Hati Tuhan dan meminta ampun dari padaNYA, nescaya kita semua akan terus menerima kunjungan Tuhan dalam kehidupan kita.
Teman-teman seperjuangan, kuatkan semangat hancurkan lemah semangat, beranikan diri hindarkan ketakutan, sujud dan menyerah pada Tuhan untuk terus dipakai Tuhan.
Tuhan Memberkati Kita Semua.....
Friday, January 4, 2008
TAHUN YANG TERBUANG
Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang
(Yoel 2:25)
Berapa banyak tahun-tahun Anda yang hasilnya hilang dimakan belalang? Apakah keinginan pribadi, hawa nafsu, motivasi penuh dosa, dan ambisi pribadi Anda telah merampas sukacita, kedamaian, dan keberhasilan dari hidup Anda? Mungkin Anda merasa putus asa memikirkan waktu-waktu yang terbuang dan tidak dapat terulang lagi.
(Yoel 2:25)
Berapa banyak tahun-tahun Anda yang hasilnya hilang dimakan belalang? Apakah keinginan pribadi, hawa nafsu, motivasi penuh dosa, dan ambisi pribadi Anda telah merampas sukacita, kedamaian, dan keberhasilan dari hidup Anda? Mungkin Anda merasa putus asa memikirkan waktu-waktu yang terbuang dan tidak dapat terulang lagi.
Jika memang demikian, perhatikanlah perkataan Tuhan melalui Nabi Yoel. Tuhan memberi tahu umat Israel bahwa sekalipun mereka pernah tidak menaati Tuhan dan mengalami pendisiplinan Tuhan melalui wabah belalang, tetapi masih ada pengharapan bagi mereka. Tuhan berkata bahwa Dia "pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia" (Yoel 2:13). Dan Dia berjanji, "Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang" (ayat 25).
Apabila kita mengaku dosa kepada Tuhan, maka Dia akan segera mengampuni masa lalu dan mengisi hari depan kita dengan pengharapan. Dia dapat memunculkan kebaikan dari tahun-tahun kita yang terbuang. Dia melakukannya dengan cara mengajari kita kerendahan hati melalui kegagalan yang kita alami, dan menolong kita memahami kelemahan yang sering kita perbuat terhadap orang lain.
Meskipun tahun-tahun kita yang lalu telah dirusak oleh dosa, Tuhan sangat rindu untuk memulihkan kita dan memberi hasil terhadap pekerjaan kita. Apa yang telah kita pelajari di masa lalu menghasilkan pelayanan yang produktif dan pujian yang sepenuh hati bagi Dia. Tahun yang sedang kita jelang ini dipenuhi dengan pengharapan!
BETAPA PUN GELAPNYA MASA LALU ANDA
BERSAMA KRISTUS HARI DEPAN ANDA CERAH
Dipetik dari kidung.com
Posted by: Bro Koboi
Thursday, January 3, 2008
New Year 2008
must say that it has been a very enjoyable & entertaining experience too while posting here in the last several months. It's great knowing that I have stumbled upon one of the best & greatest BLOG there is on the Internet. One full of really nice & friendly folks with a passion, a desire & a willingness to teach & share & possessing much knowledge in the spiritual mooring.
I want to extend my appreciation & gratitude for that & to take this time to wish you & all your families a healthy, happy, & successful new year.
Lets hope that the new year will be a better one for us all & the world too. If we all work at & try to make the world a much better & safer place in which to live then perhaps maybe it will be.
HAPPY NEW YEAR & GOD BLESS YOU ALL!!!
HENRY G
Wednesday, December 12, 2007
Monday, December 10, 2007
Merry Christmas 2007
Hai semua...apa kabar? pastinya baik dan sihat semua....ok let me bercerita tentang krismas tahun ni...ni tahun sa tidak dapat merayakan krismas di KK @ di Asia City, tahun ini saya akan merayakan krismas di kampung wife saya di Taginambur dan di kampung saya di Tegudon.
Walaupun rasa lain2 sebab sudah 3 tahun sa berkrismas di KK mcm dah biasa. Anyway utk semua kawan2 sy yg merayakan krismas di KK sy ucapkan Selamat Hari Natal dan Tuhan memberkati kita semua di tahun2 akan mendatang. Buat kwn2 sya; Bro Walter Mark Mukis, Bro Daine Sangkiu, Bro Nelson Bray; Bro-bro pemuzik-Lesley, Becky, Timothy, Jualis, Andrew, Ejoy, Brayn, Mixton (yg handsome tu hehehe), Sis-sis Penari Rebana-Kath, Floria, Erna, Helen,
Yan dll waaahhh ada yg sa tidak ingat sorry ye; Para Penyanyi-Elvy, Julaini, Armin, Ethel yg cantik, Ivy Pur yg cute, Minggu adik c Julai hehehe, dan buat cif Bro Arnold and Sis Charlyn; Sis Henrietta and family; Bro Henry and Family, Bro Fedilis @ Pensan....dan yang lain2 lagi yg tak sempat di sebut nama....dan yang terakhir buat PENGUNJUNG BLOG NI....terima kasih....WE WISH YOU A MERRY CHRISTMAS...WE LOVE YOU ALL
Yan dll waaahhh ada yg sa tidak ingat sorry ye; Para Penyanyi-Elvy, Julaini, Armin, Ethel yg cantik, Ivy Pur yg cute, Minggu adik c Julai hehehe, dan buat cif Bro Arnold and Sis Charlyn; Sis Henrietta and family; Bro Henry and Family, Bro Fedilis @ Pensan....dan yang lain2 lagi yg tak sempat di sebut nama....dan yang terakhir buat PENGUNJUNG BLOG NI....terima kasih....WE WISH YOU A MERRY CHRISTMAS...WE LOVE YOU ALL
from: Bro John @ Koboi and family
Wednesday, December 5, 2007
KASIH YANG SEMPURNA
1 Yohanes 4:15-18
...: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman
dan barang siapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih
(1Yohanes 4:18)
Seorang bijak pernah menulis, "Ketika kasih hadir, ketakutan pun lenyap." Saya mengenal banyak orang kristiani yang tersiksa oleh perasaan ragu, tak berharga, dan penuh dosa. Mereka berpikir harus berbuat sesuatu agar lebih dikasihi Allah. Namun, Yohanes menulis, "karena sama seperti Dia [Yesus], kita juga ada di dalam dunia ini" (1Yohanes 4:17). Artinya, bila Yesus meyakini kasih Bapa, Demikian pula seharusnya kita memiliki keyakinan yang sama dengan Yesus bahwa Bapa mengasihi kita dengan kasih sempurna.
...: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman
dan barang siapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih
(1Yohanes 4:18)
Seorang bijak pernah menulis, "Ketika kasih hadir, ketakutan pun lenyap." Saya mengenal banyak orang kristiani yang tersiksa oleh perasaan ragu, tak berharga, dan penuh dosa. Mereka berpikir harus berbuat sesuatu agar lebih dikasihi Allah. Namun, Yohanes menulis, "karena sama seperti Dia [Yesus], kita juga ada di dalam dunia ini" (1Yohanes 4:17). Artinya, bila Yesus meyakini kasih Bapa, Demikian pula seharusnya kita memiliki keyakinan yang sama dengan Yesus bahwa Bapa mengasihi kita dengan kasih sempurna.
Yesus telah menyelesaikan tugas penebusan bagi kita di kayu salib, maka semua hukuman atas dosa-dosa kita telah berlalu dan dihapus selamanya. Kini kita tidak lagi berada di bawah hukuman.
Kasih ini melenyapkan ketakutan. Seperti yang ditulis Yohanes, "Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan" (ayat 18). "Ketakutan" yang dimaksud Yohanes adalah ketakutan akan penghakiman. Tetapi kita tak perlu takut lagi, sebab "sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus" (Roma 8:1). "Kasih sempurna" Allah telah mengenyahkan ketakutan.
Semua dosa kita telah diampuni. Kita dipegang erat oleh kasih Allah dan ditentukan untuk menikmati persekutuan abadi dengan-Nya. Bukan karena usaha yang kita lakukan, tetapi karena segala sesuatu yang telah dilakukan-Nya bagi kita. "Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita" (1Yohanes 4:10). Itulah kasih yang sempurna!
Thursday, November 15, 2007
JALAN PULANG
Filipi 2:1-4,12-16
Kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia
(Filipi 2:15)
Penulis Anne Lamott mengisahkan seorang gadis kecil berusia 7 tahun yang tersesat di sebuah kota besar. Dengan cemas anak itu berlari mondar-mandir di beberapa ruas jalan, mencari tempat yang ia kenal. Seorang polisi melihatnya, menyadari kesulitan anak itu, dan menawarkan bantuan. Anak itu masuk ke mobil, dan sang polisi menjalankan mobilnya pelan-pelan menyusuri daerah itu. Tiba-tiba si anak menunjuk sebuah gereja dan minta turun dari mobil. Ia meyakinkan polisi itu, "Ini gereja saya. Saya selalu bisa menemukan jalan pulang dari sini."
Kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia
(Filipi 2:15)
Penulis Anne Lamott mengisahkan seorang gadis kecil berusia 7 tahun yang tersesat di sebuah kota besar. Dengan cemas anak itu berlari mondar-mandir di beberapa ruas jalan, mencari tempat yang ia kenal. Seorang polisi melihatnya, menyadari kesulitan anak itu, dan menawarkan bantuan. Anak itu masuk ke mobil, dan sang polisi menjalankan mobilnya pelan-pelan menyusuri daerah itu. Tiba-tiba si anak menunjuk sebuah gereja dan minta turun dari mobil. Ia meyakinkan polisi itu, "Ini gereja saya. Saya selalu bisa menemukan jalan pulang dari sini."
Banyak orang berpikir gereja adalah lembaga kuno yang tak lagi relevan dengan dunia modern. Namun, saya yakin gereja yang setia mengajarkan Alkitab dan mewartakan kabar baik keselamatan melalui Kristus benar-benar memberi apa yang semua kita butuhkan untuk "menemukan jalan pulang".
Apabila gereja kita menjalankan fungsi yang diberikan Allah, maka para jemaatnya akan dengan rendah hati melayani dan memerhatikan satu sama lain, saling mendorong untuk mengikuti teladan Kristus (Filipi 2:1-11). Kelompok jemaat ini, lewat kata-kata dan hidupnya, juga menjadi penunjuk jalan bagi dunia yang tersesat menuju Yesus. Mereka melayani "seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan" (ayat 15,16).
Gereja yang mengajarkan kebenaran tentang Kristus tak hanya relevan, tetapi juga sangat dibutuhkan dalam dunia kita ini. Gereja ini dapat menolong orang-orang dari sepanjang zaman untuk menemukan jalan pulang ke rumah mereka - VG
GEREJA MENOLONG ORANG TERSESAT MENEMUKAN
JALAN PULANG APABILA CAHAYANYA BERSINAR TERANG
Tuesday, November 6, 2007
Sahabat Sejati
Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiriApa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatanmempunyai nilai yang indah.
Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya... Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya..
Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur - disakiti, diperhatikan - dikecewakan, didengar - diabaikan, dibantu - ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian..
Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya. Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.
Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.
Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis. Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya. Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan.
Siapa yang berada di samping anda ??? Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai ??Siapa yang ingin bersama anda saat anda tak bisa memberikan apa-apa ??
MEREKALAH SAHABAT ANDA Hargai dan peliharalah selalu persahabatan anda dengan mereka. ** Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita. Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman-teman kita **
bro walter mark mukis
Monday, November 5, 2007
hi.. miss you all there
im doing my project at semporna...
im using digital camera underwater... taking my own picture
this is cultured coral...
red coral.... sale around 30-35 US dollar.. cultured underwaterhi... have are nice week there... bro will spend one more week here...
will met you all when i come back to kk...
Saturday, November 3, 2007
Bertatu atau Bertindik Salah dan Bukan Kristian?
Pernah satu ketika dulu saya ditanya kalau bertatu atau bertindik itu SALAH dan BUKAN KRISTIAN. Memang pada mulanya saya mengelak untuk berdialog mengenai isu ini kerana ia sangat peribadi dan bergantunglah kepada seseorang bagaimana dia menyesuaikan penampilan diri sesuai dengan imannya dan apa yang dia percaya tentang prinsip yang digariskan oleh Alkitab. Saya sudah selidiki dan saya yakin Alkitab sendiri pun tidak berkata SALAH atau tidak SALAH. Yang menariknya, ada beberapa prinsip yang kita boleh lihat supaya kita tidak lagi keliru dan sudah boleh membuat keputusan mana yang patut kita buat dan mana yang tidak.
Pengenalan
Bagi kebanyakkan pemuda-pemudi, ini telah menjadi satu tren yang semakin digemari. Ada pemuda-pemudi yang berkata bahawa tatu itu menunjukkan sikap kelelakian mereka manakala yang lain pula berkata bahawa ia merupakan satu seni dan salah satu cara bagaimana pemuda-pemudi mengekspresikan diri mereka. Dari subut alkitabiah, adakah ini benar?
Sebenarnya jawapan bagi persoalan ini tidaklah mudah. Perlu diingatkan bahawa bukanlah tujuan perbincangan ini untuk mengatakan bahawa mempunyai tatu dan menindik tubuh badan itu salah. Perbincangan ini diharapkan dapat membuka minda pemuda-pemudi supaya mereka dapat membuat keputusan yang bijak, sesuai dengan ajaran Kristian dan prinsip-prinsip tertentu yang telah digariskan oleh Alkitab. Sebelum itu, adalah perlu bagi kita untuk mengetahui secara ringkas asal-usul bertatu dan menindik tubuh badan.
Sejarah ringkas
Perkataan tatu itu sendiri berasal daripada perkataan atau bahasa Tahiti “tatu” atau “tatau” yang membawa maksud tanda atau lakaran. Menurut beberapa sumber, adalah dipercayai bahawa bertatu telah lama wujud iaitu sekitar 12,000 B.C. Tujuan bertatu adalah berbeza-beza daripada satu masyarakat kepada masyarakat yang lain. Bertatu mempunyai maksud ritual dan ada tradisinya yang tersendiri. Sebagai contoh, orang Yunani dahulu bertatu untuk tujuan pengintipan. Setiap pengintip mempunyai tatu yang berbeza-beza bagi menunjukkan pangkat mereka. Bagi masyarakat di Rom pula, penjenayah dan hamba abdi akan dikenakan tatu. Di kawasan yang dekat dengan kita iaitu di Pulau Borneo, makna bagi setiap ukiran tatu membawa pelbagai pengertian.
Pada masa dahulu sebelum kedatangan James Brooke ke Sarawak, seorang pahlawan Iban yang berjaya mengalahkan musuh (sehingga memancung kepala musuhnya) akan mengenakan tatu pada jarinya. Bagi masyarakat Polenisia pula, ukiran tatu yang berbeza-beza menunjukkan status dan identiti dalam sebuah masyarakat. Pada umumnya, bertatu merupakan satu praktik komuniti pagan yang memanifestasikan unsur-unsur budaya tersirat mereka. Di Miri, terdapat suku-suku tertentu yang mengenakan tatu. Namun, setelah menjadi Kristian dan menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka, bertatu atau bertindik tidak lagi digalakkan. Tatu yang ada pada tubuh orang-orang Kristian itu sendiri sudah tidak membawa maksud ritual yang tersirat berbanding sebelumnya. Oleh itu, adalah tidak adil bagi kita untuk mengarahkan orang-orang Dayak, misalnya, untuk menghapuskan semua tatu yang ada pada tubuh badan mereka kerana semuanya itu telah “dibereskan” oleh Tuhan Yesus Kristus melalui pertobatan mereka.
Ya atau tidak?: bertatu dan bertindik daripada perspektif Alkitab
Bertatu tidak dicatatkan secara langsung dalam Alkitab. Namun, ada beberapa ayat yang seolah-olah menyentuh tentang aktiviti menandakan sesuatu pada tubuh badan, seperti yang terdapat dalam Imamat 19: 28. Melihat kepada konteks ini, bertatu nampaknya dilarang kerana ia menunjukkan ketaatan kepada penyembahan behala. Jadi, Alkitab sendiri tidak pernah menggalakan mana-mana masyarakat untuk bertatu ataupun menandakan mana-mana bahagian tubuh mereka pada waktu itu.
Ada pemuda-pemudi yang berhujah bahawa bertindik tubuh badan (termasuk pada telinga dan hidung) ada disebutkan dalam Alkitab tetapi lebih daripada ini tidak banyak yang kita ketahui (Amsal 25:12 dan Keluaran 32:2). Menurut pemuda pemudi ini lagi, Alkitab sendiri tidak menyebutkan tentang salah atau benar mengenakan berbagai-bagai hiasan pada tubuh. Namun, pemuda-pemudi perlu menerokai ayat-ayat lain dalam Alkitab bagi mendalami isu ini. Sebagai contoh, 1 Petrus 3:3 mengatakan, “(P)erhiasanmu jangalah secara lahiriah, (i)aitu dengan (mengepang-mengepang) rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang (indah-indah) tetapi perhiasanmu ialah manusia (batiniah) yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari Roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah”.
Bagi sesetengah pemuda-pemudi pula, bertatu dan betindik adalah satu tren baru masa kini dan oleh yang demikian, tidak salah untuk diikuti. Bagi pemuda-pemudi ini, jika tren ini tidak diikuti, mereka akan dianggap sebagai “ketinggalan zaman”. Walau bagaimanapun, apapun tren atau budaya baru yang diperkenalkan, pemuda-pemudi mestilah merujuk kepada prinsip-prinsip seperti yang digariskan dalam Alkitab. Jika Aristotle, seorang ahli falsafah ulung Yunani memperkenalkan “Nicomachean Ethics” sebagai tatacara dan prinsip bagi seseorang individu dalam menjalani kehidupan seharian, Alkitab pula dengan jelas menunjukkan bagaimana tokoh-tokoh pilihan Allah seperti Musa, Nehemiah, Daniel, Yusuf dan Tuhan Yesus Kristus sendiri diberkati kehidupan mereka kerana mengikuti prinsip-prinsip Alkitab. Oleh itu, pemuda-pemudi perlu menghayati prinsip-prinsip yang diberikan di bawah sebelum membuat keputusan sama ada hendak bertatu atau bertindik.
Prinsip yang pertama ialah kesederhaan atau kerendahan hati. Apabila kita mengenakan hiasan-hiasan seperti bertatu atau bertindik kita sebenarnya ingin menarik perhatian orang ramai supaya mereka melihat kepada kita. Apa kata Alkitab tentang hal ini? Filipi 2: 3 mengatakan, “(D)engan tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari(pada) dirinya sendiri” Manakala 1 Petrus 5:5 pula mengatakan, “Demikianlah juga kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab Allah menentang orang yang congak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati”.
Prinsip yang kedua ialah menghormati serta sensitif kepada keadaan di sekeliling. Dengan kata lain, pemuda-pemudi mestilah sensitif dengan keadaan di sekeliling mereka yang terdiri daripada berbagai ragam dan sifat manusia. Bagi sesetengah masyarakat, bertatu dan bertindik adalah bukan merupakan sebahagian daripada budaya yang perlu dihayati Sememangnya benar bahawa kita mempunyai kebebasan untuk melakukan apa sahaja yang kita hendak lakukan. Tetapi kebebasan yang agak “keterlaluan” sehingga boleh menyebabkan orang lain menjadi “tersandung” adalah tidak sihat (1 Korintus 8). Jadi, pemuda-pemudi perlulah berfikir secara bijak sebelum membuat keputusan.
Prinsip yang ketiga ialah mentaati ibubapa, kerajaan yang memerintah, orang-orang tua and pemimpin-pemimpin yang lain serta mematuhi peraturan-peraturan tertentu yang telah mereka gariskan. Contohnya apabila berada di rumah, pemuda-pemudi hendaklah menghormati ibubapa mereka. Dan tindak-tanduk mereka setiap hari hendaklah menunjukkan mereka mempunyai sikap taat dan sopan terhadap ibubapa mereka. Apabila berada di sekolah ataupun di kampus, adalah menjadi kewajipan bagi pemuda-pemudi untuk menghormati guru serta pensyarah mereka dengan melaksanakan segala kerja-kerja sekolah dan tugasan yang diberikan. Perkara penting yang perlu dilaksanakan oleh pemuda-pemudi adalah mentaati pemimpin negara (Roma 13). Jadi, jika pemuda-pemudi mempunyai sikap mentaati seperti yang telah dibincangkan di atas, mereka sebenarnya sudah menunjukkan sifat seperti Tuhan Yesus Kristus. Tetapi ini tidak bermakna bahawa pemuda-pemudi hendaklah mentaati apa sahaja yang disuruh . Pemuda-pemudi boleh menunjukkan rasa tidak puas hati mereka dengan penuh rasa hormat dan sopan (1 Petrus 3: 15).
Prinsip yang keempat ialah berkenaan dengan tubuh kita sebagai “bait Allah” dan “tempat kudus” yang perlu dijaga dengan rapi dan baik. Oleh itu, segala tindakan seperti menggores tubuh, meletakkan besi-besi kecil di lidah, pusat, hidung, dan sebagainya adalah tidak sihat bagi kita orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Satu Korintus 6: 19 berkata, “Aku mengatakan hal ini secara manusia k(e)rana kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuh mu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuh mu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan”. Jadi, nampaknya agak jelas bahawa Alkitab sendiri pun sebenarnya tidak menggalakkan kita daripada mengubahsuai serta menokok-tambah apa yang ada pada tubuh kita.
Prinsip kelima ialah berkenaan dengan peranan kita sebagai saksi-saksi Tuhan Yesus Kristus. Adakalanya penampilan kita sendiri pun sudah menyebabkan orang lain menjauhkan diri daripada Tuhan Yesus Kristus. Dan kita tidak perlu menjadi seperti mereka yang bertatu atau bertindik dengan alasan untuk “menginjili” ataupun “melayani” mereka. Walau bagaimanapun, dalam konteks dunia yang serba moden ini, pemuda-pemudi perlu mencari strategi-strategi tertentu dalam melaksanakan pelayanan di kalangan pemuda-pemudi. Kita perlu kreatif dan pada masa yang sama berpegang kepada ajaran sebenar seperti yang digariskan dalam Alkitab. Walau apapun strategi-strategi yang digunakan, pemuda-pemudi perlulah menghayati apa yang dikatakan oleh 1 Petrus 3: 15, “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggujawab(an) kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawab(an) dari(pada) kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat”.
Kesimpulan
Sepanjang perbincangan kita sebentar tadi, kita telah melihat secara ringkas latarbelakang bertatu dan bertindik pada zaman sebelum kelahiran Tuhan Yesus Kristus lagi. Kita juga telah melihat bagaimana, setelah melalui berbagai transformasi, bertatu dan bertindik sudah menjadi satu tren atau fashion yang semakin popular terutamanya dikalangan pemuda-pemudi. Walaupun Alkitab tidak menyatakan secara langsung tentang bertatu atau bertindik, tetapi ia dengan jelas menggariskan beberapa prinsip yang seharusnya menjadi pegangan bagi setiap pemuda-pemudi. Kepada pemuda-pemudi yang bercadang hendak mengenakan tatu atau bertindik, prinsip-prinsip di atas hendaklah dihayati dan pemuda-pemudi perlulah membuat keputusan sebijak yang mungkin.
Arnold Puyok
Pengenalan
Bagi kebanyakkan pemuda-pemudi, ini telah menjadi satu tren yang semakin digemari. Ada pemuda-pemudi yang berkata bahawa tatu itu menunjukkan sikap kelelakian mereka manakala yang lain pula berkata bahawa ia merupakan satu seni dan salah satu cara bagaimana pemuda-pemudi mengekspresikan diri mereka. Dari subut alkitabiah, adakah ini benar?
Sebenarnya jawapan bagi persoalan ini tidaklah mudah. Perlu diingatkan bahawa bukanlah tujuan perbincangan ini untuk mengatakan bahawa mempunyai tatu dan menindik tubuh badan itu salah. Perbincangan ini diharapkan dapat membuka minda pemuda-pemudi supaya mereka dapat membuat keputusan yang bijak, sesuai dengan ajaran Kristian dan prinsip-prinsip tertentu yang telah digariskan oleh Alkitab. Sebelum itu, adalah perlu bagi kita untuk mengetahui secara ringkas asal-usul bertatu dan menindik tubuh badan.
Sejarah ringkas
Perkataan tatu itu sendiri berasal daripada perkataan atau bahasa Tahiti “tatu” atau “tatau” yang membawa maksud tanda atau lakaran. Menurut beberapa sumber, adalah dipercayai bahawa bertatu telah lama wujud iaitu sekitar 12,000 B.C. Tujuan bertatu adalah berbeza-beza daripada satu masyarakat kepada masyarakat yang lain. Bertatu mempunyai maksud ritual dan ada tradisinya yang tersendiri. Sebagai contoh, orang Yunani dahulu bertatu untuk tujuan pengintipan. Setiap pengintip mempunyai tatu yang berbeza-beza bagi menunjukkan pangkat mereka. Bagi masyarakat di Rom pula, penjenayah dan hamba abdi akan dikenakan tatu. Di kawasan yang dekat dengan kita iaitu di Pulau Borneo, makna bagi setiap ukiran tatu membawa pelbagai pengertian.
Pada masa dahulu sebelum kedatangan James Brooke ke Sarawak, seorang pahlawan Iban yang berjaya mengalahkan musuh (sehingga memancung kepala musuhnya) akan mengenakan tatu pada jarinya. Bagi masyarakat Polenisia pula, ukiran tatu yang berbeza-beza menunjukkan status dan identiti dalam sebuah masyarakat. Pada umumnya, bertatu merupakan satu praktik komuniti pagan yang memanifestasikan unsur-unsur budaya tersirat mereka. Di Miri, terdapat suku-suku tertentu yang mengenakan tatu. Namun, setelah menjadi Kristian dan menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka, bertatu atau bertindik tidak lagi digalakkan. Tatu yang ada pada tubuh orang-orang Kristian itu sendiri sudah tidak membawa maksud ritual yang tersirat berbanding sebelumnya. Oleh itu, adalah tidak adil bagi kita untuk mengarahkan orang-orang Dayak, misalnya, untuk menghapuskan semua tatu yang ada pada tubuh badan mereka kerana semuanya itu telah “dibereskan” oleh Tuhan Yesus Kristus melalui pertobatan mereka.
Ya atau tidak?: bertatu dan bertindik daripada perspektif Alkitab
Bertatu tidak dicatatkan secara langsung dalam Alkitab. Namun, ada beberapa ayat yang seolah-olah menyentuh tentang aktiviti menandakan sesuatu pada tubuh badan, seperti yang terdapat dalam Imamat 19: 28. Melihat kepada konteks ini, bertatu nampaknya dilarang kerana ia menunjukkan ketaatan kepada penyembahan behala. Jadi, Alkitab sendiri tidak pernah menggalakan mana-mana masyarakat untuk bertatu ataupun menandakan mana-mana bahagian tubuh mereka pada waktu itu.
Ada pemuda-pemudi yang berhujah bahawa bertindik tubuh badan (termasuk pada telinga dan hidung) ada disebutkan dalam Alkitab tetapi lebih daripada ini tidak banyak yang kita ketahui (Amsal 25:12 dan Keluaran 32:2). Menurut pemuda pemudi ini lagi, Alkitab sendiri tidak menyebutkan tentang salah atau benar mengenakan berbagai-bagai hiasan pada tubuh. Namun, pemuda-pemudi perlu menerokai ayat-ayat lain dalam Alkitab bagi mendalami isu ini. Sebagai contoh, 1 Petrus 3:3 mengatakan, “(P)erhiasanmu jangalah secara lahiriah, (i)aitu dengan (mengepang-mengepang) rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang (indah-indah) tetapi perhiasanmu ialah manusia (batiniah) yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari Roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah”.
Bagi sesetengah pemuda-pemudi pula, bertatu dan betindik adalah satu tren baru masa kini dan oleh yang demikian, tidak salah untuk diikuti. Bagi pemuda-pemudi ini, jika tren ini tidak diikuti, mereka akan dianggap sebagai “ketinggalan zaman”. Walau bagaimanapun, apapun tren atau budaya baru yang diperkenalkan, pemuda-pemudi mestilah merujuk kepada prinsip-prinsip seperti yang digariskan dalam Alkitab. Jika Aristotle, seorang ahli falsafah ulung Yunani memperkenalkan “Nicomachean Ethics” sebagai tatacara dan prinsip bagi seseorang individu dalam menjalani kehidupan seharian, Alkitab pula dengan jelas menunjukkan bagaimana tokoh-tokoh pilihan Allah seperti Musa, Nehemiah, Daniel, Yusuf dan Tuhan Yesus Kristus sendiri diberkati kehidupan mereka kerana mengikuti prinsip-prinsip Alkitab. Oleh itu, pemuda-pemudi perlu menghayati prinsip-prinsip yang diberikan di bawah sebelum membuat keputusan sama ada hendak bertatu atau bertindik.
Prinsip yang pertama ialah kesederhaan atau kerendahan hati. Apabila kita mengenakan hiasan-hiasan seperti bertatu atau bertindik kita sebenarnya ingin menarik perhatian orang ramai supaya mereka melihat kepada kita. Apa kata Alkitab tentang hal ini? Filipi 2: 3 mengatakan, “(D)engan tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari(pada) dirinya sendiri” Manakala 1 Petrus 5:5 pula mengatakan, “Demikianlah juga kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab Allah menentang orang yang congak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati”.
Prinsip yang kedua ialah menghormati serta sensitif kepada keadaan di sekeliling. Dengan kata lain, pemuda-pemudi mestilah sensitif dengan keadaan di sekeliling mereka yang terdiri daripada berbagai ragam dan sifat manusia. Bagi sesetengah masyarakat, bertatu dan bertindik adalah bukan merupakan sebahagian daripada budaya yang perlu dihayati Sememangnya benar bahawa kita mempunyai kebebasan untuk melakukan apa sahaja yang kita hendak lakukan. Tetapi kebebasan yang agak “keterlaluan” sehingga boleh menyebabkan orang lain menjadi “tersandung” adalah tidak sihat (1 Korintus 8). Jadi, pemuda-pemudi perlulah berfikir secara bijak sebelum membuat keputusan.
Prinsip yang ketiga ialah mentaati ibubapa, kerajaan yang memerintah, orang-orang tua and pemimpin-pemimpin yang lain serta mematuhi peraturan-peraturan tertentu yang telah mereka gariskan. Contohnya apabila berada di rumah, pemuda-pemudi hendaklah menghormati ibubapa mereka. Dan tindak-tanduk mereka setiap hari hendaklah menunjukkan mereka mempunyai sikap taat dan sopan terhadap ibubapa mereka. Apabila berada di sekolah ataupun di kampus, adalah menjadi kewajipan bagi pemuda-pemudi untuk menghormati guru serta pensyarah mereka dengan melaksanakan segala kerja-kerja sekolah dan tugasan yang diberikan. Perkara penting yang perlu dilaksanakan oleh pemuda-pemudi adalah mentaati pemimpin negara (Roma 13). Jadi, jika pemuda-pemudi mempunyai sikap mentaati seperti yang telah dibincangkan di atas, mereka sebenarnya sudah menunjukkan sifat seperti Tuhan Yesus Kristus. Tetapi ini tidak bermakna bahawa pemuda-pemudi hendaklah mentaati apa sahaja yang disuruh . Pemuda-pemudi boleh menunjukkan rasa tidak puas hati mereka dengan penuh rasa hormat dan sopan (1 Petrus 3: 15).
Prinsip yang keempat ialah berkenaan dengan tubuh kita sebagai “bait Allah” dan “tempat kudus” yang perlu dijaga dengan rapi dan baik. Oleh itu, segala tindakan seperti menggores tubuh, meletakkan besi-besi kecil di lidah, pusat, hidung, dan sebagainya adalah tidak sihat bagi kita orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Satu Korintus 6: 19 berkata, “Aku mengatakan hal ini secara manusia k(e)rana kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuh mu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuh mu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan”. Jadi, nampaknya agak jelas bahawa Alkitab sendiri pun sebenarnya tidak menggalakkan kita daripada mengubahsuai serta menokok-tambah apa yang ada pada tubuh kita.
Prinsip kelima ialah berkenaan dengan peranan kita sebagai saksi-saksi Tuhan Yesus Kristus. Adakalanya penampilan kita sendiri pun sudah menyebabkan orang lain menjauhkan diri daripada Tuhan Yesus Kristus. Dan kita tidak perlu menjadi seperti mereka yang bertatu atau bertindik dengan alasan untuk “menginjili” ataupun “melayani” mereka. Walau bagaimanapun, dalam konteks dunia yang serba moden ini, pemuda-pemudi perlu mencari strategi-strategi tertentu dalam melaksanakan pelayanan di kalangan pemuda-pemudi. Kita perlu kreatif dan pada masa yang sama berpegang kepada ajaran sebenar seperti yang digariskan dalam Alkitab. Walau apapun strategi-strategi yang digunakan, pemuda-pemudi perlulah menghayati apa yang dikatakan oleh 1 Petrus 3: 15, “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggujawab(an) kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawab(an) dari(pada) kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat”.
Kesimpulan
Sepanjang perbincangan kita sebentar tadi, kita telah melihat secara ringkas latarbelakang bertatu dan bertindik pada zaman sebelum kelahiran Tuhan Yesus Kristus lagi. Kita juga telah melihat bagaimana, setelah melalui berbagai transformasi, bertatu dan bertindik sudah menjadi satu tren atau fashion yang semakin popular terutamanya dikalangan pemuda-pemudi. Walaupun Alkitab tidak menyatakan secara langsung tentang bertatu atau bertindik, tetapi ia dengan jelas menggariskan beberapa prinsip yang seharusnya menjadi pegangan bagi setiap pemuda-pemudi. Kepada pemuda-pemudi yang bercadang hendak mengenakan tatu atau bertindik, prinsip-prinsip di atas hendaklah dihayati dan pemuda-pemudi perlulah membuat keputusan sebijak yang mungkin.
Arnold Puyok
Friday, November 2, 2007
RENUNGAN JUMAAT 2 NOVEMBER 2007
Yohanes 21:18-25
UBAT KEMARAHAN
Jawab Yesus: "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang,
itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku” (Yohanes 21:22)
Kita mungkin akan langsung menyetujui pernyataan bahwa "semua manusia diciptakan setara". Namun, kita tidak perlu waktu lama untuk menyedari bahawa kehidupan memperlakukan sebagian orang lebih baik daripada yang lain. Kita harus belajar menerima hal ini tanpa merasa marah.
UBAT KEMARAHAN
Jawab Yesus: "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang,
itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku” (Yohanes 21:22)
Kita mungkin akan langsung menyetujui pernyataan bahwa "semua manusia diciptakan setara". Namun, kita tidak perlu waktu lama untuk menyedari bahawa kehidupan memperlakukan sebagian orang lebih baik daripada yang lain. Kita harus belajar menerima hal ini tanpa merasa marah.
Ketidakadilan hidup dapat terlihat dalam banyak segi kehidupan. Penyakit kanser pada tubuh seorang anak kecil, sementara para perokok dan peminum minuman keras tetap hidup sampai usia lanjut. Sebagian orang menikmati kesihatan yang bagus, sedangkan yang lainnya tidak. Sebagian orang tidak menderita cacat fisik, tetapi yang lain mengalami cacat yang parah. Sebagian orang bekerja dengan keras namun tetap hidup dalam kemiskinan, sementara yang lain dilahirkan kaya atau tampaknya selalu mendapatkan segala macam kesempatan.
Ketika Yesus memberi tahu Rasul Petrus bahwa ia akan gugur sebagai martir karena memperjuangkan imannya, Petrus kemudian bertanya apa yang akan terjadi dengan Yohanes. Tampaknya ia berpikir bahwa tidak adil kalau Yohanes tidak mati dengan cara yang sama. Namun, Yesus berkata kepada Petrus bahwa apa yang akan terjadi pada Yohanes bukanlah urusan Petrus. Itu sudah menjadi keputusan Allah. Tanggung jawab Petrus hanyalah mengikuti Kristus.
Apabila melihat orang lain membuat Anda marah terhadap ketidakadilan hidup ini, ubahlah fokus Anda. Pandanglah Yesus dan ikutlah Dia. Ketidakadilan hidup hanyalah bersifat sementara. Keadilan sempurna akan kita nikmati selamanya di dalam surga - H V
KEMARAHAN DATANG KARENA MELIHAT ORANG LAIN
KEPUASAN DATANG KARENA MELIHAT ALLAH
Dipetik dari renungan bulan november kidung.com
Subscribe to:
Posts (Atom)

